Oleh: myusufshandy | 29 November 2011

HIJRAH: Khutbah Pertama Rasulullah SAW di Madinah

HIJRAH: Khutbah Pertama Rasulullah SAW di Madinah

Abdullah bin Salam RA menceritakan, ketika Nabi SAW tiba di Madinah, manusia berkumpul di hadapan Rasulullah SAW sambil berseru, “Rasulullah telah tiba, Rasulullah telah tiba!?” Saya pun datang di tengah-tengah orang banyak untuk memperhatikan wajah beliau. Setelah melihatnya, saya pun tahu bahwa wajahnya bukanlah wajah seorang pembohong. Adapun yang pertama-tama beliau sampaikan kala itu adalah:
أَيُّهَا النَّاسُ , أَفْشُوا السَّلامَ , وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ , وَصِلُوا الأَرْحَامَ , وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ , تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلامٍ
“Wahai MANUSIA, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah silaturrahim, dan lakukanlah shalat (shalat malam) ketika orang-orang sedang tertidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Menurut kebanyakan ulama, kata ‘masuk surga dengan selamat’ artinya masuk surga tanpa dihisab. Dalam khutbah ini Rasulullah SAW mengemukakan empat hal yang mencakup kesalehan PRIBADI dan kesalehan SOSIAL. Siapa yang melakukan keempat hal tersebut, ia akan menikmati indahnya peduli dan berbagi, membangun kebersamaan, dan lezatnya berdua-duaan dengan Allah SWT.

Keempat hal tersebut yaitu:
1. Menebarkan salam (salam itu melahirkan cinta dan kasih sayang)
2. Memberikan makanan (melapangkan rezeki dan memanjangkan umur)
3. Mempererat jalinan silaturrahim (mengundang kasih sayang Allah SWT)
4. Menekuni shalat malam (membawa pelakunya ke derajat yang terhormat dan dimuliakan)

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu melakukan keempat hal tersebut di atas, guna menggapai kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Amin…

-MYS-

Oleh: myusufshandy | 29 November 2011

Sejarah HIJRAH Rasulullah SAW

[catatan] Sejarah HIJRAH Rasulullah SAW:

>Kamis, 27 Safar (Thn ke-14 Kenabian)/12 Sept 622 M; Rasul SAW meninggalkan rumahnya, lalu menuju Abu Bakr kemudian ke Gua Tsur (menginap selama 3 malam)

>Malam Senin, 1 R. Awal 01 H/6 Sept 622 M: Rasul SAW bersama Abu Bakr melanjutkan perjalanan menuju Madinah melalui pinggir pantai Laut Merah

>Senin, 8 R. Awal 01 H/23 Sept 622 M, Rasul SAW tiba di Quba. Beliau tinggal di sana selama 4 hari (Senin-Kamis). Di sana beliau membangun masjid pertama setelah kenabian.

>Jumat, 12 R. Awal, beliau SAW meninggalkan Quba menuju Kota Yatsrib (Madinah), dan shalat Jum’at di Bani Salim bin Auf, bersama sekitar 100 org laki-laki, di masjid yg terdapat di sebuah lembah.

> Jumat, 12 R. Awal, usai shalat Jumat, beliau SAW memasuki kota Yatsrib, dan sejak itulah ia disebut sebagai Kota Rasulullah SAW.

> Ketika beliau SAW tiba, beliau disambut oleh putra-putri kamu Anshar dg bait2 Asraqah, rumah2 penduduk bergemuruh dg suara tahmid dan taqdis. Mereka melantunkan:
– Asraqal badru ‘alaena – min tsaniyyatil wada’
– Wajabasy syukru ‘alaena – ma da’a lillahi da’
– Ayyuhal mab’utsu fina – ji’ta bil amril mutha’

(Disarikan dari Ar-Rahiq al-Makhtum oleh Al-Mubarak Fawriy)
Demikian, smg bermanfaat. Berkah, sehat dan sukses selalu. Amin…

*) Catatan dibuat untuk Pengajian Subuh di Masjid An-Nuur, Cipayung, 27 Nov 2011

M. Yusuf Shandy

 

Oleh: myusufshandy | 10 November 2011

4. Doa Nabi Ibrahim As (Bag. 4)

4. Doa Nabi Ibrahim As (Bag. 4)

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

(QS. Ibrahim [14]: 37)

*) Dalam doa Nabi Ibrahim di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran, antara lain;

1. Selalu mendoakan anak, agar menjadi anak yang taat dan patuh ibadah kepada Allah SWT. Dalam doa-doa Nabi Ibrahim AS yang diabadikan Allah SWT dalam al-Quran, Nabi Ibrahim As selalu menyertakan anak, keturunan dan orangtuanya dalam doanya. Sehingga tidak heran jika nabi-nabi setelahnya adalah keturunan beliau, termasuk Nabi Muhammad SAW.

2. Membantu anak menjadi pribadi yang rajin ibadah. Pada doa ini kita melihat bahwa Nabi Ibrahim AS, dengan sengaja, menempatkan anak dan keturunannya pada tempat yang baik dan mendukung bagi anak dan keturunannya untuk lebih rajin ibadah kepada Allah SWT. Sekalipun al-Haram adalah wilayah yang tak memiliki tanaman, Ibrahim tetap menempatkan keturunannya di sana, karena di tempat itulah anaknya dapat lebih dekat kepada Allah SWT, antara lain melakukan shalat.

3. Pentingnya menegakkan shalat, karena shalat adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Shalat termasuk sarana paling utama mendekatkan diri kepada Allah SWT.

4. Memohon kepada Allah SWT agar anak-anak dilimpahi rezeki. Sebagai manusia biasa, Nabi Ibrahim AS tidak ingin anaknya terlantar dan sengsara, sehingga beliaupun selalu menyertakan dalam doanya agar anak-anak dan keturunannya diberi rezeki berupa buah2an. Kenapa buah-buahan? Karena ternyata buah-buahan itu sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia (soal ini bisa dibaca dalam buku2 yg membahas tentang mukjizat ilmiah al-Quran).

5. Membantu anak menjadi hamba yang selalu bersyukur, melalui doa dan bimbingan yang berkesinambungan.

6. Satu lagi, Nabi Ibrahim AS berharap kelak anak-anak dan keturunannya menjadi pribadi2 yang disenangi oleh orang banyak. Disenangi karena kebaikan dan kedekatannya dengan Allah SWT, sehingga kesalehan itu tidak hanya terbatas para pribadi anak2nya (kesalehan pribadi), tetapi juga bagi orang banyak (kesalehan sosial).

Demikian, semoga Allah SWT menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, juga mengaruniakan kepada kita anak dan keturunan yang saleh dan dermawan sertai pandai bersyukur. Berkah, sehat dan sukses selalu buat semua. Amin… (MYS, 10/11/11)

Oleh: myusufshandy | 10 November 2011

3. Doa Nabi Ibrahim AS untuk Orangtuanya (Bag. 3)

3. Doa Nabi Ibrahim untuk Orangtuanya (Bag. 3)

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
RABBANAGFIRLIY WALIWALIDAYYA WA LILMU’MININA WAL MU’MINAT YAWMA YAQUMUL HISAB

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim [14]: 41)

Dalam doa yang diungkapkan Nabi Ibrahim ini terdapat tiga permintaan ampunan; yaitu permintaan ampun untuk diri sendiri, kedua orang tua, dan untuk kaum mukminin dan mukminat pada hari dihisabnya manusia, yakni pada hari seluruh amal manusia diputar kembali oleh Allah SWT untuk dimintai pertanggungan jawab.

*) Mendoakan orangtua termasuk ibadah dan amal salih yang mulia. Kenapa? Karena orangtua kitalah yang melahirkan, menyapih, membesarkan, mendidik dan menafkahi kita. Di sinilah pentingnya kita selalu mendoakan kedua orangtua kita, termasuk memohonkan ampunan Allah SWT buat keduanya, semoga dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya diampuni oleh-Nya.

Sebagai salah satu bukti kebaikan Nabi Ibrahim AS kepada orangtuanya, beliau mendoakan orangtuanya. Bahkan, ketika beliau diusir oleh ayahnya dari kampung halamnnya, karena Ibrahim tak mau menghentikan dakwahnya, Ibrahim tetap berjanji akan mendoakan orangtuanya. Saat Ibrahim diusir oleh ayahnya sendiri, beliau menyatakan, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam: 47)

Pada ayat lain, beliau memohon,

وَاغْفِرْ لأبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ

“… dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 86)

Namun, permohonan Ibrahim itu ditolak oleh Allah SWT. Karena, orang musyrik, termasuk para orangtua yang musyrik tidak boleh dimohonkan ampun, karena sudah pasti dosa-dosa mereka tidak akan diampuni oleh Allah SWT.

Lalu mengapa Ibrahim memohonkan ampun orangtuanya? Hal itu dia lakukan sebelum nyata baginya bahwa orangtuanya termasuk musuh Allah SWT, karena menyekutukan-Nya. Allah SWT menyatakan,

وَمَا كَانَ استغفار إِبْرَاهِيمَ لأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ للَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya.” (QS. Ibrahim: 114)

Bahkan dalam ayat lain, Allah menyatakan sikap Nabi Ibrahim mendoakan orang tuanya yang musyrik dan kafir tidak layak dicontoh, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia . . . . kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Akhirnya,
marilah kita mendoakan dan memohon ampun buat para orangtua kita;
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa para orangtua kami, orangtua yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik kami, orangtua yang telah mengorbankan segalanya demi kami, anak-anaknya.

Ya Allah, sayangilah orangtua kami sebagaimana mereka menyayangi kami sejak kecil.

Ya Allah, terimalah doa dan permohonan ampun kami.
Birahmatika ya Arhamarrahimin…
Amin…

(MYS, 09/11/11)

Oleh: myusufshandy | 10 November 2011

2. Doa Nabi Ibrahim As (Bag. 2)

Doa Nabi Ibrahim AS:

Doa untuk Diri Sendiri dan Keturunan

supaya Menegakkan Shalat dan Selalu Dijabah Doanya (Bag. 2)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

RABBIJ’ALNIY MUQIMASSHALATI WA MIN DZURRIYYATIY RABBANA WA TAQABBAL DU’AIY
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

(QS. Ibrahim [14]: 40

*) Shalat termasuk rukun Islam yang lima. Shalat juga menjadi kunci keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan hamba yang mula-mula akan dihisab pada hari kemudian kelak adalah shalat; jika shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Jika shalatnya rusak, sungguh dia akan rugi dan menyesal.” (HR. Ahmad)

Karenanya, marilah kita selalu bedoa supaya diri kita dan anak-anak kita tergolong hamba-hamba yang selalu menagakkan shalat dengan khusyu’, sehingga keluarga kita menjadi KELUARGGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH, bahagian di dunia dan akhirat. Amin… (MYS, 07/11/11)

Oleh: myusufshandy | 10 November 2011

1. DOA Nabi Ibrahim AS Memohon Anak Saleh (Bag. 1)

1. DOA Nabi Ibrahim AS Memohon Anak Saleh:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 100)

*) Nabi Ibrahim AS dikaruniai anak ketika beliau berusia 86 tahun, sekitar 40 tahun setelah beliau menikah. Mula-mula beliau menikah dengan Sarah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, beliau menikah dengan Hajar. Dari Hajar-lah beliau mendapat anak pertama, yaitu Ismail bin Ibrahim. Beberapa tahun setelah Ismail lahir, barulah Sarah melahirkan putra pertamanya, yaitu Ishaq. Inilah salah satu doa yang dimohonkan oleh Nabi Ibrahim kpd Allah; memohon anak saleh. Alhamdulillah…Allah pun mengabulkan permohonannya. (MYS, 06/11/11)
Oleh: myusufshandy | 10 November 2011

Meneladani Metode Nabi Ibrahim AS dalam Mendidik

Meneladani Nabi Ibrahim AS

METODE Nabi Ibrahim AS dalam Mendidik Anak, Keluarga dan Umatnya

1. Mendoakan anak didik
=> berdoa supaya anak dan keturunanya menjadi anak saleh; menegakkan shalat, menjauhi perkara syirik.

2. Keteladanan
=> berkurban krn Allah semata.

3. Berorientasi pada penguatan akidah anak didik
=> beliau mengajak ayahnya dan umatnya menyembah Allah SWT, krn Dialah yg memberikan rezeki, kesembuhan dan nikmat2 lainnya.

4. Dialog yang cerdas dan memuaskan, al Buhan as-Sati’, alasan yg membuat peserta didik tak berkutik.
=> dialog Nabi Ibrahim AS dg kaumnya soal patung2 yg mereka sembah.

5. Ramah menghadapi peserta didik
=> tetap ramah dengan ayahnya meski berbeda keyakinan.

6. Sabar dan tawakkal
=> Beliau tdk balas dendam. Beliau terus berdoa ‘hasbiyallah wa ni’mal wakil’.

7. Memberikan sanksi bagi yang melanggar aturan
=> pesan kpd Ismail supaya mengganti “daun pintunya”.

*)Uraian lengkapnya menyusul yach…mhn maaf.

Semoga kita dapat meneladani Nabi Ibrahim AS (QS.60:4) dalam mewujudkan anak dan keturunan yg saleh, keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Amin…

Bambu Apus, 11 Dzulhijjah 1432 H / 7 November 2011

M. Yusuf Shandy

Oleh: myusufshandy | 9 November 2011

MANDUL (?)

MANDUL (?)

Allah SWT berfirman,
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ، أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak PEREMPUAN kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak LELAKI kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis LAKI-LAKI dan PEREMPUAN (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan MANDUL siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”

(QS. Asy-Syura [42]: 49-50)

Tujuan utama seseorang menikah adalah menjaga kemaluan dan mendapatkan keturunan, dengan harapan sepeninggalnya nanti ada yang mewarisinya dan–yang terpenting–ada yang selalu mendoakannya saat dia berada dalam kubur hingga hari kebangkitan.

Namun, apa jadinya jika orang itu telah menikah selama bertahun-tahun lamanya tapi belum juga mendapatkan keturunan?! Di sinilah pentingnya sabar dan tabah dalam menjalani rumah tangga. Sabar bukan berarti hanya menunggu dan menunggu tanpa melakukan sesuatu. Ikhtiyar dan doa itu penting.

Seorang kawanbaru dikaruniai anak saat usia pernikahnnya memasuki enam tahun. Bahkan ada pula yang lebih lama dari itu. Yang lebih lama lagi adalah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Beliau dikaruniai anak sekitar 40 tahun setelah menikah, itupun dari istri keduanya, yaitu Hajar. Dari Hajar-lah Nabi Ibrahim mendapatkan anak pertama, yaitu Ismail bin Ibrahim AS.

Selain menempuh berbagai ikhtiyar, seperti konsultasi ke dokter dan mengonsumsi obat-obatan herbal, juga perlu didukung dengan doa. Satu lagi, yaitu sedekah. Sedekah ini laksana kendaraan bagi doa kita menuju Allah SWT. “Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathi [35]: 10)

Berikut doa-doa yang dapat dibaca untuk memohon keturunan dari Allah SWT. Doa-doa tersebut bisa dibaca kapan saja, terutama usai melaksanakan shalat wajib dan shalat tahajjud. Berdoalah denga penuh khusyu’, suara lirih, yakin dan sungguh-sungguh, tidak asal-asalan.

*) Do’a meminta Isteri dan keturunan yang menyenangkan hati:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Ya Allah, berikanlah kami Isteri dan keturunan yang menyenangkan hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwah. (Al-Furqan [25]: 74)

*) Do’a meminta keturunan:
رَبِّ لاَ تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
Ya Allah, janganlah Engkau membiarkan aku sendiri, sedang Engkau adalah sebaik-baik Pemberi warisan. (Al-Anbiya [21]: 89)

*) Do’a meminta keturunan yang shalih:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang shalih. (Ash-Shaaffat [37]: 100)

Demikian, semoga bermanfaat.

Kita berdoa semoga Allah SWT memberikan kepada kita keturunan yang salih/salihah…sehingga cita rasa keluarga sakinah mawaddah wa rahmah dapat kita nikmati. Amin…

 

Bambu Apus, 30 Oktober 2011

-mysahndy-

Oleh: myusufshandy | 6 November 2011

Pembagian Daging Qurban

Pembagian Daging Qurban

PERTANYAAN:

Assalamu Alaikum Wr Wb.

Di daerah saya, orang yang qurban tidak boleh memakan daging qurbannya, anggapan ini sudah turun menurun. Apakah benar demikian? Bagaimana sebenarnya cara pembagian daging qurban menurut Islam?

Irma – Bulukumba

 

JAWABAN:

1. Berqurban merupakan salah satu ibadah yang sangat ditekankan dalam Islam. Selain sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT juga sebagai sarana untuk mempererat ukhuwah/persaudaraan dengan sesama manusia. Hal ini sebagaimana ditekankan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Kautsar ayat 2 dan Surat Al-Hajj ayar 28.

2. Aturan berqurban dalam Islam sangat jelas mulai dari dasarnya, hewan yang boleh diqurbankan dan siapa saja yang boleh mendapatkan daging qurban tersebut.

3. Bedasarkan dalil-dali yang ada, daging qurban dapat diberikan kepada siapa saja, terutama fakir miskin, sebagaimana disbeutkan oleh Allah SWT dalam Surat al Hajj ayat 28, yaitu:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS Al Hajj [22]: 28)

Dalam praktiknya, Rasulullah SAW juga mengemukakan dalam haditsnya,

كلوا وأطعموا وادخروا

“’akanlah, berikanlah (sebagai) makanan bagi orang lain, dan simpanlah.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud)

Berdasarkan ayat dan hadits tersebut di atas jelas bagi kita bahwa daging qurban itu boleh dimakan oleh orang yang berqurban, dan memang tidak ada larangan dalam hal ini. Selain dimakan sendiri oleh orang yang qurban, sebagian dagingnya diberikan kepada orang lain, serta disimpan.

4. Dalam kitab Fikih Sunnah, karangan Sayyid Sabiq, beliau menuliskan, para ulama mengatakan, “Yang paling utama ialah bahwa orang yang berqurban makan sepertinganya, sebagiannya lagi disedekahkan dan disimpan.”
(Fikih Sunnah, 5/376)

Demikian, wa Allahu A’lam bish-shawab

Semoga bermanfaat. Berkah, sehat dan sukses selalu buat semua

Jakarta, 9 Dzulhijjah 1432 H/5 November 2011

M. Yusuf Shandy, Lc.

Oleh: myusufshandy | 4 November 2011

KISAH: Hapal Al Quran Ketika Berumur Sepuluh Tahun

KISAH:
Hapal Al Quran Ketika Berumur Sepuluh Tahun

Salah satu keutamaan al Quran dibanding kitab-kitab lain adalah bahwa Allah SWT sendiri yang akan menjaganya. Bagaimana caranya? Ya, antara lain, melalui hamba-hamba-Nya, khususnya mereka yang menhapal ayat-ayat-Nya. Sehingga ketika terjadi kesalahan cetak misalnya, sengaja atau tidak,  bisa langsung ketahuan.

Menikmati Hidangan Allah SWTKetika masih duduk di bangku SD, ayahku selalu menceritakan padaku tentang keistimewaan ulama-ulama terdahulu yang sulit dicapai oleh ulama-ulama sekarang. di antara keistimewaan ulama-ulama terdahulu itu mereka telah hapal al Quran 30 juz sejak kecil. Imam Syafi’i, misalnya, beliau telah menghapal al Quran pada usia tujuh tahun. ulama-ulama madzhab lainnya tidak jauh berbeda. Pikirku yang masih anak-anak, kala itu, ah mana mungkin al Quran setebal itu bisa dihapal oleh anak kecil. Namun, begitulah faktanya.

Pikiran itu terus tertanam dalam otakku hingga aku dipertemukan dengan sebuah buku kecil yang mengulas tentang profil para ulama pendiri mazhab; Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali. Ternyata, pendiri keempat mazhab terkemuka itu telah hapal al Quran sejak kecil, rata-rata sebelum memasuki usia 10 tahun. Allahu Akbar!

Setelah masuk pondok pesantren, pikiran saya itu semakin terbantahkan. di pondok itu saya melihat banyak santri yang telah menghapal puluhan juz padahal usia mereka tidak jauh beda dengan saya. Akhirnya, suatu hari, saya pun dipertemukan dengan salah seorang santri yang bisa tembus hapalannya hanya dalam jangka waktu 11 bulan, di usia baru belasan tahun. Maha benar firman Allah SWT,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” Ayat ini diulang oleh Allah SWT dalam Surat al Qamar sebanyak empat kali, yaitu  pada ayat 17, 22, 32 dan 40.

Pada awal tahun berjalan, Yayasan al Kauny Jakarta membuka program tahfizh al Quran untuk anak-anak, yang dinamai dengan Kuany Quranic School (KQS). Maka saya pun mendaftarkan anak saya yang usianya belum genap empat tahun. Alhamdulillah, di situ saya semakin yakin bahwa ternyata al Quran itu dapat dihapal oleh anak-anak, bahkan sebelum bisa baca al Quran sekalipun. Beberapa anak telah menghapal juz 30 hanya dalam beberapa bulan. Anak saya sendiri, hingga saat ini, telah menghapal lebih dari 20 surat dari juz 30.

Kalau kita mencari kisah anak-anak yang menghapal al Quran sejak dini, sungguh sangat banyak, antara lain kisah berikut ini, kisah sorang anak yang telah hapal al Quran pada usia 10 tahun;

Kini ia telah berumur 30 tahun. Ia telah menamatkan hapal al Quran ketika berumur 10 tahun. Berawal saat ayahnya mengajaknya shalat di masjid ketika itu umurnya belum mencapai 4 tahun.

Saat keduanya kembali ke rumah, sang ayah dikejutkan dengan bacaan anaknya yang mengikuti sebagian ayat yang dibaca oleh imam ketika shalat. sang ayah lantas memutuskan untuk mentalqin bacaan surah2 pendek (seperti Surat Al Fatiha, an Nas, al Ikhlas) kepada anaknya kemudian si anak pun mengikuti bacaan anaknya. Demikianlah yang dilakukan ayahnya setiap hari sampai anak tersebut hapal kumpulan surat pendek saat berumur 4 tahun.

Aktivitas seperti ini berlanjut hingga sang anak berumur 6 tahun. Ia telah menghapal 3 juz al Quran. Kemudian sang ayah menyerahkan anaknya kepada seorang Syeikh hafiz Quran untuk menyempurnakan hapalannya. Anak tersebut melanjutkan hapalannya dengan cara mendengarkan sampai berumur 8 tahun.

Setelah itu ia melanjutkan hapalan dengan membaca mushaf dan akhirnya ia dapat menamatkan hapalannya saat berumur 10 tahun.
Saat ini dia adalah seorang imam di masjid, khususnya pada waktu sahalat Tarawih, segala puji hanya milik Allah.*

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Semoga anak-anak kita termasuk anak-anak yang gemar menghapal ayat-ayat Allah SWT, sehingga nimatnya keluarga sakinah mawaddah wa rahmah semakin terasa dalam rumah tangga kita. Amin… (myshandy)

Bambu Apus, 8 Dzulhijjah 1432 H/4 November 2011

*) Referensi: Menghapal al Quran Itu Mudah; Hasan Ahmad Hamam, Pustaka At-Tazkia, Jakarta, September 2011

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.