Oleh: myusufshandy | 31 Oktober 2011

Ketika Jahannam Bertahlil

Ketika Jahannam Bertahlil

Oleh: M. Yusuf Shandy, Lc

يَوْمَ تُبَدَّلُ الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Ibrahim [14]: 48-52)

Inilah salah satu ayat yang menggambarkan tentang kedahsyatan hari kiamat sekaligus menggambarkan kemahakuasaan Allah SWT. Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu katsir, 2/1596) menyebutkan bahwa beberapa saat setelah ayat ini diterima oleh Rasulullah saw, Aisyah pun mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak pernah didengarkan oleh Rasulullah saw sebelumnya.

Aisyah bertanya, “Wahai, Rasulullah, pada hari itu manusia berada dimana?” Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW pun bersabda, “Engkau telah mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan sebelumnya oleh siapapun dari umatku.” Setelah itu, Rasulullah saw kemudian melanjutkan jawabannya, “Pada hari itu seluruh manusia berada di atas sebuah jembatan (Jisr) yang di bawahnya terdapat neraka Jahannam,” (HR. Ahmad). Pada riwayat lain (Muslim, Tirmidzi dan Ibn Majah) Rasulullah SAW menyebutkannya dengan kata “ash-Shirat” yang berarti jalan—yang membentang di atas neraka Jahannam.

Pertanyaan itu ternyata juga merupakan pertanyaan Rasulullah saw saat Jibril menyampaikan ayat tersebut kepadanya. Imam Al-Qutrhubi (penulis Tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an atau yang dikenal dengan Tafsir al-Qurthubi) dalam bukunya yang berjudul At-Tadzkirah (2/149) menyebutkan, bahwa ketika Jibril ‘Alaihissalam turun ke hadapan Rasulullah SAW dengan membawa firman Allah SWT “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain…dst”, beliau saw bertanya, “Wahai Jibril, di mana manusia berada pada saat hari kiamat datang?”

Jibril menjawab, “Muhammad, (pada hari itu) mereka berada di atas tanah yang berwarna putih. Gunung beterbangan bagaikan kapas yang ditiup, gunung-gunung meleleh karena takut terhadap neraka Jahannam. Muhammad, pada hari kiamat, gelombang api berkobar sangat dahsyat, sedang di atasnya terdapat 70.000 tali kendali, dan pada setiap tali kendali terdapat 70.000 malaikat. Pada hari itu neraka jahannam berada dalam kendali Allah SWT. Lalu Allah SWT berkata kepada neraka jahannam, “Wahai Jahannam, bicaralah!”

Lalu, atas izin dan kehendak-Nya, Jahannam pun berkata, “Laa ilaaha Illallaah (tiada Tuhan selain Allah)! Atas keagungan-Mu, kemuliaan-Mu dan kekuasaan-Mu, pada hari ini, aku akan belas dendam terhadap mereka yang memakan rezeki-Mu tetapi mereka menyembah makhluk. Pada hari ini, aku tidak akan balas dendam kepada siapapun kecuali yang Engkau kehendaki; aku tidak akan mengizinkan siapapun menyeberang di atasku kecuali jika dia memiliki kartu atau izin dari-Mu.”

Rasulullah SAW kemudian bertanya (lagi), “Jibril, apa isi surat izinnya? Kartu seperti apakah pada hari kiamat nanti?” Jibril menjawab, “Beritahukanlah kabar gembira ini, bahwa sesungguhnya surat dan kartu izin untuk melewati neraka Jahannam adalah kalimat Laa ilaaha illallaah. Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan—yang pantas disembah di langit dan di bumi—selain Allah, dialah yang akan selamat ketika melewati jembatan neraka Jahannam.” Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah saw pun bersabda sambil memuji,

الًحَمْدُ لِله الَّذِيْ أًلْهَمَ أًمَّتِيْ قَوْلَ لَا إلهَ إلَّا الله

“Segala puji bagi Allah yang telah mengilhami umatku dengan ucapan la ilaha ilallah.”

Sekali waktu Nabi Musa ‘Alaihissalam memohon kepada Allah SWT, “Tuhanku, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir dan berdo’a kepada-Mu.” Allah berfirman, “Katakanlah, wahai Musa, laa ilaaha ilallaah!”  Musa kemudian berkata, “Tuhanku, seluruh hamba-Mu mengucapkan ini?!”  Maka Allah SWT berfirman, “Hai Musa, sekiranya ketujuh lapis langit beserta isinya—selain Aku—dan ketujuh lapisan bumi berada di satu daun timbangan, sedangkan Laa ilaaha illallaah di daun timbangan lainnya, niscaya Laa ilaaha ilallaah masih lebih berat.” (HR. al-Hakim dan Ibnu Hibban, shahih).

Itulah salah satu keutamaan Laa ilaaha illallaah, ia menjadi surat izin atau tiket untuk dapat melintasi jembatan yang membentang di atas kobaran api neraka Jahannam, menuju surga Allah SWT yang penuh keselamatan dan kenikmatan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang selalu berdzikir dan ringan lisan dalam mengucapkan Laa ilaaha ilallaah hingga akhir hayat, sehingga kita terbebas dari panasnya api neraka. Amin, amin…Allahumma Amin.***

Cilangkap, 17 Januari 2011

MYS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: