Oleh: myusufshandy | 3 November 2011

Khutbah Idul Adha: Menjadi Hamba Kesayangan Allah SWT dengan Meningkatkan Semangat Berkurban

Khutbah Idul Adha:

Menjadi Hamba Kesayangan Allah SWT Dengan Meningkatkan Semangat Berkurban

(Disampaikan di Komplek MABES TNI AL, Cilangkap, Jakarta, 1432 H)

Oleh: M. Yusuf Shandy, Lc.
(Kaunee Center, Jakarta)

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

اَللهُ أَكْبَرُ  اَللهُ أَكْبَرُ  اَللهُ أَكْبَرُ  اَللهُ أَكْبَرُ  اَللهُ أَكْبَرُ  اَللهُ أَكْبَرُ  اَللهُ أَكْبَرُ  اَللهُ أَكْبَرُ  اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَنْ أَمَّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ مِنْ إِنْسَان. اَللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ وَخَضَعَ لِرَبِّهِ وَاسْتَكَانَ. اَللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَنْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ وَمَدَّ يَدَي الْإِفْتِقَارِ طَالِبًا لِلْعَفْوِ مِنْ رَبِّهِ وَالْغُفْرَان. اَللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللهِ مِنْ قُرْبَانٍ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ آدَمَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّار. وَأَحْظَاهُ بِجِوَارِهِ وَأَسْجَدَ لَهُ مَلاَئِكَتَهُ الْمُقَرَّبِيْنَ الْأَطْهَار. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَار. وَأَشْكُرُهُ عَلَى مُتَرَادِفِ فَضْلِهِ الْمِدْرَار. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَنْ صَلَّى وَنَحَرَ. وَحَجَّ وَاعْتَمَرَ. وَوَقَفَ بِعَرَفَةَ وَالْمَشْعَر. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ اللهُ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّر. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْل. وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. رَفَعَ اللهُ تَعَالَى قَدْرَهُ وَأَظْهَر. وَسَمَّاهُ يَوْمُ الْحَجِّ الْأَكْبَر.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Alhamdulillah…

Segala puji bagi Allah SWT atas nikmat-Nya yang tak terhitung jumlahnya.
Segala puji bagi Allah SWT yang tak pernah bosan memberikan berbagai nikmat dan karunia sehingga, pada hari ini, kita dapat berkumpul di tempat ini untuk melaksanakan salah satu syiar terbesar Islam, yaitu Idul Adha.

Segala puji bagi Allah SWT, di mana pada hari ini pula, sekitar tiga juta umat Islam dari berbagai suku, bangsa dan negara, dari berbagai belahan dunia, semunaya berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji.

Allahu Akbar….walillahil hamdu
Ma’asyiral muslimin rahimakumullahh…

Hari Raya Idul Qurban dan pelaksanaan ibadah haji, mengingatkan kita tentang kesabaran dan ketabahan abul anbiya (bapak para nabi), Nabi Ibrahim as, dalam menghadapi berbagai cobaan dan ujian selama hidupnya, guna menebarkan kebenaran kepada segenap umat manusia.

Di usia mudanya, Ibrahim as (alaihissalam) diuji dengan kemandulan istrinya. Allah SWT menakdirkan Ibrahimm menikah dengan Sarah, seorang yang mandul pada awalnya. Beliau baru dikaruniai anak—buah hati yang diidam-idamkan oleh setiap orang yang menikah—ketika berusia 86 tahun, dengan lahirnya seorang anak yang shalih, Ismail as.

Ketika beliau semakin tumbuh dewasa, Allah SWT kemudian mengangkatnya menjadi seorang nabi dan rasul. Allah SWT berfirman,

”Dan sesungguhnya kami menganugerahkannya kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun, yakni sebelum diturunkannya Taurat kepada keduanya). Dan Kami mengetahui keadaannya.” (QS. Al Anbiya [21]: 51)

Pengangkatan dirinya sebagai nabi dan rasul tak membuatnya lepas dan terbebas dari ujian. Justeru ujian itu semakin besar, karena harus berhadapan dengan ayah dan umatnya sendiri, berhadapan dengan lingkungan yang telah membesarkannya.

Ibnu Katsir dalam kitab Qashash al-Anbiya menyebutkan bahwa penduduk Kaldaniyyah (Syam, yang sekarang lebih dikenal dengan nama Damaskus), dimana Ibrahim bertempat tinggal bersama keluarganya kala itu. Penduduknya menyembah tujuh bintang dan berkiblat ke kutub selatan. Oleh karena itu, lanjut Ibnu Katsir, setiap pintu dari tujuh pintu kuno Damaskus memiliki patung yang melambangkan ketujuh bintang yang mereka sembah. Dan, untuk ketujuh bintang itu mereka juga mengadakan hari raya dan kurban.

Mereka inilah yang mula-mula dihadapi oleh Ibrahim. Diabadikan dalam (QS. Al Ankabut [29]: 16-17), bahwa Ibrahim berkata kepada kaumnya, ”Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kalian membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepada kalian; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Ankabut [29]: 16-17)

Ibrahim menjelaskan kepada mereka bahwa Tuhan yang pantas dan seharusnya disembah adalah Allah SWT. Karena, Allah-lah yang telah menciptakan dan memberikan rezeki kepada mereka. Berhala-berhala dan benda apapun yang disembah selain Allah, tidak akan mampu memberikan rezeki, memberi manfaat atau menolak mudharat apapun. Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.

Dan, tantangan yang paling berat bagi Ibrahim adalah ayahnya sendiri, yang bernama Azar (pada riwayat lain disebutkan bahwa ayahnya bernama Tarikh); berhadapan dengan orang yang telah membesarkannya, karena ayahnya adalah seorang penyembah berhala.

Bayangkan ketika kita diperhadapkan dengan dua keinginan yang berbeda, yaitu memilih antara keinginan orangtua kita dengan keinginan Allah, kita akan memilih siapa?! Memilih orangtua yang telah membesarkan kita, atau memilih Allah yang telah menciptakan, membesarkan dan memberikan rezeki kepada kita dan orangtua kita?! Jawabannya, tentunya memilih keinginan Allah SWT, karena Dia-lah yg telah menciptakan, memberi rezeki dan lindungan, serta berkuasa atas segala sesuatu.

“Ibrahim berkata kepada bapaknya,’Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?!

Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.” (QS. Maryam [19]: 42-45)

Lalu, bagaimana jawaban ayahnya setelah mendengarkan penjelasan dari anaknya tentang Zat Tuhan yang harus disembah?

Sang ayah malah balik mengancam, “Hai Ibrahim, Apakah kamu benci kepada tuhan-tuhanku? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS. Maryam [19]: 46)

Ibrahim diancam akan dirajam dan usir oleh ayahnya jika dirinya tetap menyampaikan dakwahnya. Namun, Ibrahim tetap konsisten dengan prinsipnya, tanpa goyah sedikit pun kendati harus berpisah dengan orangtuanya.

Atas perintah Allah SWT, Ibrahim pun meninggalkan orangtuanya. Sebelum berpisah dari orangtuanya, Ibrahim tak lupa menyampaikan salam perpisahan dan berjanji untuk selalu mendoakan orangtuanya;

Sekalipun Ibrahim berbeda prinsip dan keyakinan dengan ayahnya, dalam hal keimanan dan ketuhanan, dia tetap bersikap baik terhadap ayahnya;

Kendati ayahnya mengancam akan merajam dan mengusirnya, Ibrahim tidak memiliki niat sama sekali untuk bersikap jahat kepadanya, apalagi melakukan balas dendam.

Dia memahami betul jerih payah dan pengorbanan seorang orangtua dalam membesarkan anaknya. Maka, dia pun berjanji untuk selalu mendoakannya. Dirinya ingin agar ayahnya selamat dan hidup penuh kedamain di bawah naungan laa ilaha illah, tiada Tuhan yang pantas disembah di langit dan di bumi selain Allah.

Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam [19]: 47-48)

Namun, balasan Allah SWT terhadap hamba-hamba-Nya yg konsisten menegakkan kebenaran pasti selalu lebih baik; Allah SWT karuniakan kepada-nya saudara-saudara yang shalih, yaitu Ishak dan Ya’kub, kedua-duanya adalah nabi.

Allah SWT menyebutkan, ”Maka, ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam [19]: 48-50)

Allahu Akbar, Allahu Akbar…walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Betatapun beratnya tantangan, Ibrahim tak pernah patah semangat. Dia terus berupaya untuk membebaskan umatnya dari lingkaran kekesatan dan kegelapan. Namun, ternyata niat baik itu tak selalu disambut dengan baik.

Niat baik Ibrahim itu ditanggapi dengan penyiksaan oleh umatnya, karena hati mereka telah tertutup rapat-rapat sehingga tak dapat lagi mengenali kebenaran dan mengakui kata hati mereka.

Guna menekan Ibrahim, salah seorang dari kaumnya mengususlkan agar mengumpulkan kayu bakar yang banyak untuk kemudian membakar Nabi Ibrahim as. Usul itu disepakati. Mereka berkata, ”Bakaralah dia (Ibrahim), dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” (QS. Al Anbiya: 68)

Mereka pun kemudian mengikat Nabi Ibrahim as lalu melemparkannya ke dalam api. Sekiranya kita berada dalam kondisi seperti, kira-kira apa yang dapat kita lakukan, sementara tubuh kita lemah, kekuatan kita terbatas, tak ada seorang pun yang mau menolong kita?!

Apakah Ibrahim menyerah, dan tunduk kepada keinginan mereka?! Tidak, sekali-kali tidak! Ibrahim as tak pernah menyerah.

Dia tidak ingin menukar imannya dengan kesenangan sesaat. Di dalam dadanya sudah terpatri keyakinan yang kuat dan mendalam bahwa setelah alam dunia terdapat alam akhirat, dimana dia akan mendapatkan kesenangan yang abadi jika dirinya konsisten menebarkan kebaikan atas dasar iman kepada Allah SWT.

Saat itu, doa yang terus terucap dari lisan Ibrahim adalah Hasbunallahu wa ni’mal wa ni’mal wakil (cukuplah Allah bagi kami, dan Dia-lah sebaik-baik penolong).

Dia meyakini betul bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya adalah atas kehendak Allah SWT. Kekuatan manusia tidak akan mampu mengalahkan kekuatan Allah SWT.

Ibrahim as meyakini betul bahwa, ”Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq [65]: 3)

Dan, Allah SWT pun menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang-Nya. Dia berfirman, ”Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS. Al Anbiya: 69)

Adh-Dhahhak menyebutkan, waktu itu malaikat Jibril ikut menyertai Ibrahim masuk ke dalam kobaran api untuk membersihkan keringatnya dan memberinya makan. Karena itu, Ibrahim pernah mengatakan bahwa hari yang paling indah dalam hidupnya adalah ketika ia berada dalam kobaran api tersebut.

Allahu Akbar…….Allahu akbar……Walillahil hamdu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Ujian demi ujian telah dilewati oleh Ibrahim, baik bagi dirinya maupun bagi kedua istrinya. Ketika ujian itu hanya menimpa diri kita sendiri, rasanya tidak terlalu berat. Namun, ujian itu akan semakin terasa ketika melibatkan banyak pihak. Jika ujian-ujian sebelumnya hanya melibatkan Nabi Ibrahim seorang diri, ujian berikutnya lebih dahsyat lagi. Ujian tersebut melibatkan tiga pihak; pihak Ibrahim, pihak istrinya, Hajar, dan pihak putranya, Ismail as.

Melalui mimpinya (dan seperti dimaklumi bersama bahwa mimpi para nabi adalah benar), Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putra semata wayangnya itu. Ya, anak yang telah lama dinantikan dan telah dibesarkan dalam keadaan susah payah, diperintahkan oleh Allah SWT supaya disembelih, sebagai salah satu bukti penghambaan dirinya kepada Allah SWT. Lalu, apakah Ibrahim menolak?

Setelah mendapat perintah itu dari Allah, Ibrahim memberitahu putranya perihal mimpinya. Allah menceritakan, ”Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ’Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’

Apakah putranya menolak? Sebagai anak yang taat dan cinta kepada Allah SWT menjawab,

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat [37]: 102)

Lalu apa balasan Allah SWT atas kepatuhan dan keikhlasan mereka? ”Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis-(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.  Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (dalam beberapa kitab tafsir disebutkan bahwa sembelihan yang dimaksud adalah seekor Kibas).

Sekali lagi Allah SWT tegaskan, ”Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia (Ibrahim) termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash Shaffat [37]: 103-111)

Apa hanya itu balasan Allah bagi hamba-Nya sebaik Ibrahim as? Allah SWT melanjutkan, ”Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishak (dari istri pertamanya yakni Sarah), seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishak.” [37]: 112-112)

Allah SWT mengabadikan kisah ini sebagai pelajaran bagi umat manusia, bahwa siapa yang melakukan kebaikan, ikhlas karena Allah SWT, niscaya Dia tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya; Allah pasti akan membalasnya. ”Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)

Dan firman-Nya, ”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahal [16]: 97)

Allahu akbar….walillahil hamd,
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Melalui sejarah Ibrahim beserta keluarganya yang tegar menegakkan kebenaran dan menebarkan kebaikan, kita dapat memetik banyak pelajaran bagaimana menjadi hamba kesayangan Allah SWT. pelajaran-pelajaran tersebut, antara lain:

1.    Bahwa cobaan adalah sunnatullah. Setiap jiwa pasti akan diuji oleh Allah SWT, selama hidupnya. Baik dalam bentuk kekurangan harta, kehilangan jiwa, sakit, dan sebagainya. Siapa yang bersabar menghadapi semua itu, maka Allah SWT akan memberikan padanya pahala yang sempurna. ”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az  Zumar [39]: 10).
Rasulullah saw menyatakan, ”Sungguh menakjubkan orang mukmin itu. Setiap perkara baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh selain orang mukmin; jika diberi kelapangan, dia bersyukur, dan yang demikian itu kebaikan baginya. Dan, jika diberi kesempitan, dia bersabar, dan itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari Shuhaib bin Sinan ra.)

Bahwa betapapun beratnya suatu cobaan, semuanya akan terasa ringan bila kita meyakini bahwa cobaan tersebut adalah bagian dari cara Allah SWT mengangkat derajat hamba-Nya. Sehingga kelak dia menjadi pribadi yang tangguh dan konsisten dalam menjalani hidup ini. Dan, di akhirat kelak Allah SWT memberikan padanya surga. Allah SWT berfirman, ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran [3]: 142)

2.    Tawakkal atau berserah diri kepada Allah SWT adalah sebuah keniscayaan. Karena, Dialah yang Maha menciptakan, Maha memberi rezki, Maha menguasai segala seusatu. Keluarga, harta (kekayaan), kedudukan, kekuasaan, dan ilmu, semuanya memiliki keterbatasan, semuanya berasal dari Allah Allah. Fir’aun beserta kekuasaan dan kekuatannya, ternyata tidak mampu membendung kekuatan Allah SWT. Ketika dia berusaha membunuh Nabi Musa as, Allah SWT menggiringnya ke laut, setelah berada di tengah-tengah laut, atas kesombongan dan kepongahannya, Allah timpakan kepadanya ombak yang keras, sehingga dia pun binasa.

Ketika Rasulullah saw hijrah dari Mekah ke Madinah, kaum Quraisy terus membuntuti Rasulullah saw, namun keahlian mereka menelusuri jejak musuh tak membuat mereka mampu menemukan Rasulullah saw, padahal Rasulullah saw dan Abu Bakar radhiyallahu ’anhu hanya sembunyi di dalam sebuah gua kecil yang tidak jauh dari mereka.

Demikian pula dengan nabi Ibrahim as. Ketika beliau dilemparkan ke dalam kobaran api, ternyata kekuatan api itu justeru tidak bisa membakar Ibrahim as. Semuanya takluk di hadapan kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. ”Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. ” (QS. Ath Thalaq [65]: 3)

3.    Dalam menjalani hidup ini, siapapun tidak boleh berputus asa dalam menghadapi berbagai himpitan yang menderanya. Cobaan yang telah menimpa Nabi Yusuf As sungguh luar biasa dahsyat. Beliau pernah dibuang ke dalam sumur, diperjualbelikan layaknya barang dagangan, dipenjara, diuji dengan wanita-wanita cantik, namun semua itu tidak membuat nabi Yusuf as menyerah, putus asa. Yusuf menjalani semua itu dengan penuh sabar dan tawakkal kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau menjadi pemimpin tertinggi Mesir. Beliau tercatat sebagai pemimpin terdepan karena kemampuannya mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran serta keadilan bagi masyarakatnya. ”Sesungguhnya sesudah kesulitan itu (pasti) ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah [94]:6)

4.    Bahwa menjalin dan mempererat silaturrahim adalah bagian dari sendi-sendi kesuksesan, di dunia dan akhirat. Nabi Ibrahim as, sekalipun dirinya berbeda keyakinan dengan orangtua yang telah melahirkan dan membesarkannya, beliau tetap bersikap baik kepadanya. Sekalipun beliau diusir dari keluarganya, beliau tak melakukan balas dendam terhadap mereka. Orangtua, saudara (kakak dan adik), dan kerabat kita, mereka memiliki jasa yang tidak sedikit terhadap kita. Betatapun mereka benci dengan kita, kita tetap harus bersikap baik daan peduli dengan mereka. Allah SWT menyatakan dalam Surah Luqman, ”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan..” (QS. Luqman [31]: 14-15)

Rasulullah saw menyatakan, ”Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menjalin silaturrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik ra.)

5.    Berqurban dengan menyembelih kurban tergolong ibadah yang paling utama. Idul Qurban adalah salah satu sarana untuk mempersembahkan yang terbaik kepada Allah SWT. Siapa yang mempersembahkan yang terbaik kepada Allah SWT, niscaya Dia akan memberikan padanya balasan yang terbaik pula. Hal ini pulalah ditekankan oleh Rasulullah saw melalui sabdanya, ”Empat macam tidak boleh ada pada hewan qurban; buta sebelah yang nyata butanya, sakit yang nyata sakitnya, pincang yang nyata pincangnya, dan yang tua, yang tidak memiliki sumsum.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Al Hakim, An Nasai, dan Abu Daud, dari Al Barra’ bin Azib ra.)

Beliau menekankan kepada umatnya yang ingin berqurban agar berqurban dengan hewan terbaik, tidak sakit dan tidak catat, serta tidak tua tidak terlalu mudah.

6.    Melalui Idul Qurban, Allah dan rasul-Nya ingin mengajarkan kepada kita tentang pentingnya berbagi, saling peduli dan saling tolong menolong antar-sesama. Karena, pada hakikatnya, memberi dan tolong menolong itu adalah kebutuhan, baik oleh yang memberi maupun yang diberi. Dengan memberi kepada orang lain, maka Allah SWT tidak akan segan-segan memberi kita. Dengan menolong sesama, Allah SWT pun akan menolong kita.

Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang membebaskan kesulitan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan membebaskan kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan di dunia, maka Allah SWT akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib sesama muslim, niscaya Allah SWT akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan, Allah SWT akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Pada hadits lain Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah SWT pun akan memenuhi kebutuhannya.”

Itulah diantaranya beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Nabi Ibrahim as sepanjang hayatnya. Semoga hal ini memberikan energi positif yang baru bagi kita untuk terus menenbarkan kebaikan dengan penuh kesabaran dan tawakkah kepada Allah SWT, guna menggapai rahmat dan kasih sayang Allah SWT, sehingga kehidupan yang baik pun dapat kita nikmati bersama.
Allah SWT berfirman, ”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl [16]: 97)

Sekali waktu Rasulullah saw berceramah di hadapan para sahabatnya. Di sela-sela ceramahnya beliau bertanya;
1.    ”Siapa diantara kalian yang puasa hari ini?” Abu Bakar menjawab, ”Saya!”
2.    ”Siapa diantara kalian yang mengantarkan jenazah saudaranya hari ini? Abu Bakar menjawab, ”Saya!”
3.    ”Siapa diantara kalian yang telah memberikan makan kepada orang miskin hari ini?” Abu Bakar menjawab, ”Saya!”
4.    ”Siapa diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?” Abu Bakar menjawab, ”Saya!”
Rasulullah saw kemudian bersabda, ”Tidaklah keempat hal tersebut selalu dipadukan/diamalkan oleh seseorang, kecuali dia masuk surga.” (HR. Muslim)

Hal senada disampaikan oleh Rasulullah dalam pidato pertamanya setelah tiba di Madinah—saat beliau saw hijrah dari Mekah, beliau menyatakan,

”Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah silaturrahim, dan shalatlah ketika orang-orang sedang tertidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Yusuf ra.)

Allahu Akbar…walillahil hamd

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa do’a kepada Allah SWT termasuk ibadah yang paling utama. Marilah berdoa kepada Allah SWT dengan memohon semoga Allah SWT meringankan musibah yang menimpa kita, menyembuhkan orang-orang sakit di antara kita dan keluarga kita, memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, serta menunjuki kita semua ke jalan yang lurus.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Ya Allah, berikanlah ampunan kepada para orangtua kami; yang telah melahirkan dan membesarkan kami; yang telah rela mengorbankan segalanya demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya; yang terus menerus memohon kebaikan dan kemudahan bagi kami. Kasihi dan sayangilah mereka, ya Allah, sebagaimana mereka telah mengasihi dan menyayangi kami di masa kecil.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah tiada.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kesabaran dan teguhkanlah pendirian kami. Berikanlah kepada kami kesabaran dan ketabahan sebagaimana kesabaran Ibrahim dan Ismail dalam menjalani ujian2-Mu.

Ya Allah, janganlah Engkau menyisakan dosa kami keculai Engkau ampuni, janganlah Engkau beri kesempitan kecuali Engkau lapangkan, janganah Engkau biarkan ada utang kami keculai Engkau lunaskan, dan janganlah Engkau biarkan ada kebutuhan kami, di duni dan akhirat, kecuali Engkau penuhi, wahai Yang Maha Pengasih di antara yang mereka pengasih.

Ya Allah, terimalah permohonan dan segala kebaikan kami, sesungguhnya Engkau Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha penyayang.

Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah kami dari azab api neraka. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang zalim.

Wassalamu ’Alaikum Wr Wb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: